Pramuka ini bisa digunakan untuk dakwah juga. Kira-kira begitulah komentar salah seorang teman saya setelah mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD) angkatan ke-5 bagi para calon pembina Pramuka SMA selama seminggu di Bandung. KMD yang diselenggarakan di Secapa TNI AD Kota Bandung dan Mulberry Hill Camping Ground Cibodas, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat ini dilaksanakan pada tanggal 23 hingga 29 Nopember 2014. Pesertanya adalah para guru di SMA induk cluster yang tersebar di propinsi Kalteng, Kalsel, Kaltim, NTB, NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Sedangkan penyelenggara KMD (workshop kepramukaan) ini adalah Direktorat Pembinaan SMA Dirjen Pendidikan Menengah Kemendikbud bekerjasama dengan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, serta Pusdiklatcab Wijaya Kusumah Kwarcab Kota Bandung.

Alhamdulillah selama kegiatan berlangsung peserta yang muslim selalu diberi kesempatan untuk melaksanakan sholat 5 waktu tepat pada waktunya. Meski di tengah jadwal acara yang padat, sholat tetap mendapat perhatian. Ketika terdengar adzan zuhur misalnya, kegiatan akan dihentikan. Para peserta diarahkan para pelatih untuk menuju masjid Sabilul Iman di Komplek Secapa TNI AD. Setelah itu baru makan siang. Selanjutnya istirahat. Barulah kegiatan dilanjutkan.

Setelah sholat maghrib dan sholat subuh, ada kegiatan bimbingan rohani yang diasuh oleh Kak Nanang. Foto di bawah adalah kegiatan siraman rohani setelah sholat subuh di Masjid Sabilul Iman.

bimbingan rohani

Tentunya itu juga sesuai dengan dharma pertama dari Dasa Dharma Pramuka yaitu Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sholat adalah amal terpenting setelah iman, salah satu ciri menjaga iman adalah dengan menjaga sholat tepat pada waktunya. Dengan melaksanakan sholat yang baik dan benar, akan menjadikan pelakunya tercegah dari perbuatan keji dan munkar, insya Allah ketakwaan pun akan didapat.

Selanjutnya yang ku takutkan sebelum tiba di lokasi KMD adalah pegangan tangan dengan peserta perempuan. Dalam bayanganku, nantinya akan ada sesi pegangan tangan membentuk lingkaran. Pegangan tangan dengan ibu-ibu ini satu yang ku khawatirkan. Sebab semenjak awal kuliah S1 dulu tahun 2001 aku telah mencanangkan untuk tidak bersalaman atau bersentuhan dengan wanita yang bukan muhrim. Ini juga sesuai dengan hadits Rasulullah SAW.

Namun alhamdulillah, kekhawatiranku tidak terjadi. Dalam Pramuka ada metode satuan terpisah antara putra dan putri. Sehingga ketika kegiatan, satuan putra dan putri tetap terpisah, tidak disatukan. Begitu juga kegiatan pramuka di SMA, putra dan putri tidak dikumpulkan dalam satu sangga ataupun satu ambalan. Ada sangga khusus putra dan ada sangga khusus putri. Ada ambalan khusus putra dan ada ambalan khusus putri. Bapak Pembina Pramuka mengurusi satuan putra dan Ibu pembina Pramuka menangani satuan putri.

Hanya saja pemisahan putra dan putri ini akan sedikit menemui kendala ketika acara api unggun di malam hari. Putra dan putri dapat saja saling bercampur. Ini yang masih menjadi ganjalan dan harus dicari solusinya agar ketakwaan pramuka tetap terjaga. Bukan maksiat dan dosa yang diperoleh. Ada ide?

0 Komentar:

Posting Komentar