Alhamdulillah malam Jumat ini, 24 April 2014, kembali saya dapat mengikuti majelis ta'lim masail yang diasuh oleh Guru Muhyar Dahri, B.A. Majelis ta'lim masail ini yang diasuh oleh ketua MUI Kabupaten Hulu Sungai Selatan ini bertempat di Langgar Nurul Istiqlal, Tinggiran. Guru Muhyar Dahri membacakan kitab hadits Sunan An Nasa'i.

Di samping ta'lim fadhail, ta'lim masail juga tidak kalah penting bagi ummat Islam. Lebih lebih bagi para da'i dan ahbab se Indonesia, se dunia. Saya kadang mengambil ibarat sepeda, ta'lim fadhail adalah roda belakang lengkap dengan rantai pemutar roda. Tanpa roda belakang atau roda belakangnya macet, sepeda tidak akan jalan. Sedangkan ta'lim masail ibarat roda depan lengkap dengan setang sepeda. Roda depan dan setang akan mengarahkan mana jalanan yang harus dijalani dan mana yang harus dihindari.

Saya senang mengikuti majelis guru K.H. Muhyar Dahri ini, karena kami dapat bertanya bebas dan langsung pada beliau tentang apa saja, lebih-lebih untuk amalan sehari-hari. Untuk "sesi" tanya jawab persoalan "lain" ini biasanya setelah beliau selesai membaca hadits Sunan An Nasa'i dan doa.

K.H. Muhyar Dahri, B.A


Kali ini saya menanyakan tentang makna daripada ucapan dzikir Ya Allahu Biha Ya Allahu Biha Ya Allahu bi husnil Khatimah (ياالله بها ياالله بها ياالله بحسن الخاتمة). Ucapan ini saya dengar dibaca Imam dan jamaah sholat isya ketika saya jaulah 2 di Langgar Muara Banta , Langgar Darul Mustaqim. Saya melihat ketika mengucapkannya, mereka mengangkat tangan seperti berdoa. Dan ini menjadi tanda tanya bagi saya.

Menurut Guru Muhyar, perkataan atau kalimat itu adalah kalimat dari para ahli sufi. Arti Ha pada kata biha itu beliau sendiri juga tidak tahu apa sebenarnya. Ha dalam bahasa Arab itu adalah merujuk pada muannats. Beliau pernah menanyakan pada guru muin tentang makna dari kalimat Ya Allahu Biha Ya Allahu Biha Ya Allahu bi husnil Khatimah. Jawabannya adalah bihadzihil amal, yaitu sholat.



Masih menurut Guru Muhyar, beliau sendiri tidak mengamalkan ucapan atau kalimat-kalimat itu, dan pada prinsipnya juga tidak menyalahkan orang yang mengamalkan. Menurut saya pribadi apa yang diambil oleh beliau itu sangat tepat, tidak mengamalkan lantaran tidak ada dalil atau petunjuk langsung dari Rasulullah SAW atau para sahabat. Juga tidak berani menyalahkan. Kalaupun itu dari ulama, juga tidak tahu siapa yang pertama kali mengajarkannya, dan apa maksud makna dari ucapan dzikir itu.

0 Komentar:

Posting Komentar